Isnin, Julai 30, 2012

Isu Mesir : PAS Ditimpa Ludah Sendiri Lagi


Morshi Memilih Nasionalis Dan Bukan Islamik - Apa Spin Terbaru Nik Aziz?


Apabila Mohamed Morsi dilantik sebagai Presiden Mesir selepas Hosni Mubarak digulingkan, para pemimpin dan pengikut PAS di negara ini bertakbir riuh rendah. Mereka memikirkan yang Mohamed Morsi akan menepati ciri-ciri yang didendangkan oleh PAS dalam kempen-kempen 'Islamik' mereka di seluruh Malaysia. Maka pelbagailah cerita yang hebat-hebat tentang Mohamed Morsi serta gerakan Ikhwanul Muslimin yang akan mewujudkan sebuah Negara Islam di Mesir mengikut acuan dan fahaman PAS.

Malangnya, Mohamed Morsi bukanlah pemimpin PAS yang berkiblatkan DAP. Bahkan apa yang diperjuangkan oleh PAS di Malaysia juga terlalu jauh daripada pengetahuan Mohamed Morsi. Perlantikan Hisham Kandel sebagai Perdana Menteri Mesir yang baru, menyangkal segala tuduhan dan dogma PAS terutama sekali Nik Abdul Aziz bahawa NASIONALIS itu adalah KUFUR yang KAFIR. Kita hendak melihat selepas ini, adakah akan keluar lagi fatwa daripada penzuhud PAS tentang NASIONALIS dan KEBANGSAAN. Kalau ditentang, adakah bermakna mereka juga menentang Mohamed Morsi yang sebelum ini digambarkan sebagai 'bayangan Imam Mahdi'.

Kita tutup posting ini dengan satu soalan khusus buat Nik Aziz Nik Mat daripada Al Hafiz Ustaz Kazim Elias:

Indonesia Tuduh Sabah Tiada Budaya!


Bukanlah teman nak menunjukkan sifat nasionalis teman sangat tetapi adakalanya kita sakit hati dengan media Indon yang tidak semena-mena, 'mengganggu telur kita' di saat kita sedang diam. Pun begitu ada hikmahnya tindakan biadap media Indon ini kerana  tabiat membela 'budaya' Indonesia dan ciri-ciri Indonesia oleh sesetengah warga Sabah itu menebal dalam diri mereka, dek 'dijajah' Indonesia dari tahun 1946 - 1963. Akhirnya, Indon menganggap Sabah sebagai negeri tidak berbudaya melainkan menjual barangan kraf dari negara mereka. Apa perasaan orang Sabah hari ini?

Senin, 30/07/2012 06:17 WIB

Laporan dari Sabah

Malaysia Rasa Yogyakarta, dari Blankon hingga Gansing

Andi Saputra - detikNews


Sabah, Jalanan di kawasan kota lama Kota Kinabalu berdetak sejak pagi. Meski tak terlalu ramai, namun ratusan wisatawan mulai berjalan kaki memenuhi blok-blok jalan di tengah gedung lama. Di sini pula lah berdiri Tugu Malaysia Monument yaitu tugu peringatan bergabungnya Sabah dengan Malaysia.

"Pasar Gaya ini khusus buka hari sabtu-minggu, dari pagi sampai siang," kata Dudu, konsul muda KJRI Sabah yang menemani detikcom, Minggu (29/7/2012).

Usai memasuki Malaysia Monument, air mancur berada di tengah jalanan yang cukup luas itu. Setelah itu sebuah jalan yang cukup lebar ditutup dan di isi dengan tenda bazar yang menjual berbagai aneka cindera mata. Dari baju, aksesoris hingga anak anjing.

Nah bagi yang gila belanja, jangan kaget. Sebab jalan-jalan di sepanjang 500 meter ini serasa di Yogyakarta. Cinderemata gelang, anting dan kalung seperti yang dijual di Jalan Malioboro. Manik-manik atau sekedar tulisan SABAH pun seperti yang dijual di kota pelajar itu.

Ada pula topeng, hiasan dinding atau kacamata hitam. Seakan tidak percaya, ada juga blankon loh yang dijual. Bahkan gansing dari bambu pun ikut dihamparkan di atas meja.

"Kinabalu boleh dikatakan memang tidak punya budaya khas. Makanya banyak cinderamata yang diambil dari Indonesia lalu dijual lagi di sini," kata Konsul Sosial-Budaya KJRI Sabah, Iman Rokhadi.

Kain pantai pun bermotif Bali. Kain batik dan sarung di impor dari Samarinda. Bedanya, semua yang dijual di Pasar Gaya ini hanya ada 3 tulisan yaitu Malaysia, Sabah atau Kinabalu. Dari gantungan kunci, kaos hingga hiasan dinding.

"Banyak juga yang beli di Tanahabang lalu dijual lagi di sini. Mereka tinggal kirim email desain, lalu barang dikirim pakai paket dari Tanahabang," ujar Imam.

Di salah satu suduh jalan, terdapat pemandangan unik. Sekitar 25 orang tuna netra duduk berjejer dengan memakai kacamata hitam. Sementara di depannya duduk para pengunjung dengan kaki menjulur ke depan orang tuna netra tersebut. Selidik punya selidik mereka merupakan tukang pijit refleksi yang tergabung dalam sebuah sarikat. Sekali refleksi dengan durasi 30 menit, dikenai tarif RM 20 atau sekitar Rp 60 ribu.


(asp/mpr)