Jumaat, November 23, 2012

Deddy Mizwar Jadi Calon Timbalan Gabenor Jawa Barat

"Yang mahal tak semestinya bagus, yang bagus tak semestinya mahal" . Ungkapan ini biasa didengar di TV negara ini dari iklan sabun pencuci asal Indonesia. Si penutur ungkapan itu, Deddy Mizwar kini mencalonkan diri untuk bertanding Timbalan Gabenor Jawa Barat bersama penyandang Gabenor, Ahmad Heryawan.

Berbanding calon Gabenor lagi satu, Rieke Diah Pitaloka yang beberapa kali dilihat mengancam hubungan Malaysia - Indonesia dengan kenyataan-kenyataan bodoh, Heryawan dikenali sebagai seorang yang mesra dengan Malaysia dan sentiasa mengalu-alukan kedatangan pelancong Malaysia ke Bandung, ibu kota Jawa Barat.

Semoga pasangan Heryawan dan Deddy memenangi pemilihan tersebut.



Rabu, 21/11/2012 16:24 WIB

Pilgub Jabar

Deddy Mizwar Laporkan Kekayaan ke KPK

Ganessa Alfath - detikNews






Jakarta - Cawagub Jabar Deddy Mizwar (57) melaporkan harta kekayaannya ke KPK. Dia datang dengan mengenakan kemeja putih yang digulung dan membawa tas komputer jinjing.

Deddy yang berpasangan dengan cagub incumbent Ahmad Heryawan itu datang sekitar pukul 11.45 WIB, di Gedung KPK, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (21/11/2012). Dia datang bersama 3 stafnya.

Usai melaporkan harta kekayaan, Deddy keluar dari KPK sekitar pukul 14.00 WIB. 

"Alhamdulillah diterima dengan baik. Masih banyak yang harus dilengkapi. Macam-macam dokumen pendukung," ujar aktor senior ini.

Pemeran Jenderal Naga Bonar ini belum bersedia membeberkan nilai kekayaannya. Sebab masih ada data-data tambahan yang belum dilengkapinya.

"Beberapa tanah misalnya belum ada PBB-nya dan segala macam," ujarnya. 

Namun menurut Deddy, harta kekayaannya merupakan semua penghasilannya sebagai pengusaha, artis dan bintang iklan. 

"Apa yang dilaporkan?" tanya wartawan.

"Nanti kalau saya ngomong salah. Sebentar lagi ada keterangan resmi nanti," ucap Deddy.

Deddy dan Ahmad Heryawan maju dalam Pilgub Jawa Barat 2013 dan diusung oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Bulan Bintang (PBB), dan Partai Hanura. 

Indonesia Dilanda Demonstrasi Buruh, Syarikatnya Mahu Lari Ke Malaysia


Indonesia berbangga dengan demokrasinya apabila mengungkap negara itu bebas berdemonstrasi berbanding Malaysia. Tetapi apa untungnya?

Demo buruh yang berlanjutan seminggu di Jakarta sehingga puluhan ribu orang membanjiri jalanan dengan berbagai tuntutan, antaranya, menuntut gaji minimum RM770 sebulan, nampaknya memberi tamparan hebat kepada negara tersebut. Beberapa syarikat didapati mahu memindahkan operasi mereka ke Malaysia.

Awal tahun ini, masyarakat Indonesia mengancam untuk memboikot penggunaan Blackberry kerana RIM memilih membangunkan kilangnya di Pulau Pinang walaupun jumlah pengguna Blackberry di negara tersebut berpuluh kali ganda dari di Malaysia.

Tetapi mereka nampaknya masih gagal melihat sebab apakah pelabur luar takut untuk melabur di negara tersebut. Demo, demo, demo. Demo la ni tak supo mulo.


Sofjan Wanandi: UMP Tinggi, Perusahaan di Indonesia akan Kabur ke Malaysia

Rista Rama Dhany - detikfinance
Kamis, 22/11/2012 13:46 WIB


Jakarta - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengungkapkan beberapa perusahaan di dalam negeri bakal kabur tahun depan ke Malaysia. Hal ini akibat tingginya upah buruh dan maraknya demonstrasi buruh di Indonesia.

"Akan terjadi (kabur ke Malaysia), beberapa perusahaan sudah mengungkapkan keinginan tersebut kepada saya, tapi mereka minta ke saya agar jangan diungkapkan nama perusahaannya," kata Sofjan ketika dihubungidetikFinance, Kamis (22/11/2012).

Dikatakan Sofjan, kaburnya perusahaan dari Indonesia ke Malaysia itu akan terjadi pada 2013. "Penyebabnya salah satunya karena upah buruh yang cukup tinggi dan seringnya buruh demonstrasi, jadi mereka frustasi dan mau kabur tahun depan," ujarnya.

Selain itu, lanjut Sofjan, akibat upah dan seringnya buruh mereka demonstrasi, makin membuat produk mereka tidak bisa kompetitif untuk bersaing dengan barang-barang impor yang membanjiri Indonesia.

Hal ini diperparah tidak adanya kepastian hukum di Indonesia membuat pengusaha kebingungan. "Apalagi di Indonesia ini tidak ada kepastian hukum, pengusaha bingung," tandas Sofjan.