Selasa, Jun 19, 2012

Manohara Dakwa Tidak Pernah Menikah


Jakarta - Drama itu masih lekat di kepala kita, bagaimana sang ibu, Daisy Fajarina tersedu-sedu di televisi saat meminta bantuan agar Manohara bisa pulang ke Indonesia. Mano mengaku dirinya tak bahagia dipinang oleh putra kerajaan Kelantan Tengku Fakhry.

Selain pelecehan seksual, kala itu diakui Mano dirinya mengalami penyiksaan secara fisik dari sang suami. Melalui pernyataannya di berbagai media televisi awal 2009 lalu pun Mano mengungkapkan, ia juga sempat disekap dan tak dibolehkan pulang ke Tanah Air untuk bertemu dengan ibu dan keluarganya.

Namun setelah melewati berbagai tekanan dari pihak keluarga suaminya di sana, akhirnya ia bisa pulang ke Indonesia pada Mei 2009. Saat itu pula Mano memutuskan untuk melepaskan hubungan dan menutup cerita kelamnya selama ia tinggal di sana.

Sedikit mengenang, Mano pun menguraikan sepenggal masa lalunya tersebut. Sekejap melempar pandangannya ke jendela apartemennya di lantai 25 saat ditemui detikHOT beberapa waktu lalu, perempuan bermata cokelat ini mengungkapkan bahwa pernikahannya dengan Tengku Fachry sebenarnya tak pernah benar-benar terjadi.

Ia mengisyaratkan bahwa dirinya menikah dengan pangeran Kelantan tersebut di bawah tekanan. "Mereka punya power berlebih di sana, dan technically I was never married," ungkap Mano.

Maka ketika banyak orang mempertanyakan status dirinya, apakah benar telah bercerai dengan Fakhry, Mano pun menyatakan dengan lugas bahwa tak perlu ada proses perceraian secara resmi dari pernikahan yang menurutnya mengada-ada tersebut.

"Di Malaysia pernikahan itu pun nggak diakui. So, I don't have to get divorced," tegasnya.


Tor Tor Bukan Hanya Milik Mandailing

Keributan Tarian Tor-Tor yang 98% rakyat Malaysia tidak mengetahui apa itu Tor Tor, berpunca apabila dua ikon suku Batak di Indonesia, tarian Tor Tor dan Godang Sambilan (Gendang Sembilan) cuba diangkat oleh masyarakat Mandailing Malaysia melalui KPKK.

Klasifikasi Batak di Indonesia adalah bagi mereka yang berasal dari Tapanuli di mana majoriti suku Batak beragama Kristian. Mereka yang mendiami Tapanuli Selatan pula terdiri dari orang Islam dari suku tersebut dan berpusat di Mandailing Natal dan Padang Sidempuan. Mereka dipanggil batak Mandailing dan Batak Angkola.

Oleh kerana Tor Tor dan Gendang Sembilan dianggap milik kaum Batak secara keseluruhannya, mereka mempertikaikan usaha masyarakat Mandailing di Malaysia untuk mensinonimkan ikon tersebut dengan orang Mandailing. Bagi mereka, kedua-dua ikon tersebut bukanlah semata-mata kesenian orang Mandailing.

Tapanuli sedang mengalami proses pelahiran provinsi tersendiri, sekiranya diluluskan, menjadi provinsi ke 34 Indonesia. Krisis yang dialami kini di sana ialah masyarakat Tapanuli Selatan yakni Mandailing tidak menyokong usul ini kerana menjangkakan akan dipinggirkan oleh pemerintah propinsi Tapanuli yang majoriti penduduknya kelak adalah beragama Kristian.

Justeru mereka juga memperjuangkan satu propinsi baru yang diberi nama Tabagsel iaitu Tapanuli Bagian Selatan yang terdiri dari daerah Mandailing - Angkola.

Apa yang pasti, di tengah-tengah krisis ini menjalari rantau Tapanuli di Sumatera ini, sudah tentulah tidak bagus untuk Persatuan Mandailing Malaysia, menguji sentimen golongan yang lebih besar yang mengganggap kesenian tersebut adalah milik mereka, yakni berbagai lagi suku Batak yang mendiami Tapanuli.

Ini menyemarakkan lagi sentimen kebencian masyarakat Indonesia ke atas Malaysia yang diketahui dunia, tidak mempunyai aspirasi yang sama dengan warga dunia keseluruhannya dalam melestari dan menjaga akar kebudayaan tiap-tiap etnik di mana-mana negara.

Untuk rekod, Tor Tor dan Gendang Sembilan mungkin asing bagi masyarakat negara ini tetapi ia menjadi kemestian kaum Batak di Tapanuli dalam majlis-majlis perkahwinan dan keraian. Sebab itulah hal menjadi kecoh. 

Nasihat teman, bermesyuaratlah dengan kepala suku mengikut adat di sana dengan menghuraikan rangka apakah dan bagaimanakah pemartabatan Tor Tor dan Gendang Sembilan dan pada sudut manakah ini memanfaatkan kesenian itu secara amnya di mata dunia. Jika tidak, lupakan saja.