Rabu, Mei 07, 2014

Murahnya RON95 Malaysia diperkatakan lagi di Indonesia

BBM Sekelas Pertamax Plus di Malaysia Rp 7.350/Liter, Ini Kata Pertamina

Rista Rama Dhany - detikfinance
Selasa, 06/05/2014 16:18 WIB

Jakarta -Di Malaysia, Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan Research Octane Number (RON) 95 sekelas Pertamax Plus dijual RM 2,1/liter atau sektar Rp 7.350/liter. Sementara di Indonesia mencapai Rp 12.000/liter. Kenapa?

Manager Media Pertamina Adiatma Sardjito mengatakan, harga bensin RON 95 di Indonesia lebih mahal karena mempertimbangkan tingginya biaya distribusi dan produksi.

"Saya tidak tahu kenapa Malaysia jual BBM RON 95 murah, tapi yang jelas mengapa di Indonesia lebih mahal, karena kita mempertimbangkan biaya produksi dan biaya distribusi juga," ucap Adiatma dihubungi detikFinance, Selasa (6/5/2014).


​Foto : Detik

Adiatma mengatakan, kompleksnya distribusi BBM di Indonesia membuat biaya distribusi BBM juga cukup mahal. "Kita negara kepulauan, 16.000 pulau, sampai pulau terpencil kita harga jual harga BBM sama dengan yang di kota besar seperti Jakarta. Kita angkut pakai kapal laut, bahkan ada yang harus pakai pesawat udara," ungkapnya.

"Apalagi harga Pertamax Plus RON 95 yang kita jual juga sudah merupakan harga minyak internasional, harga pasar," tutupnya.

Sebelumnya Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Hanung Budya mengatakan, sistem distribusi bahan bakar minyak (BBM) subsidi di Indonesia merupakan yang terumit di dunia. Kondisi ini mengakibatkan sulitnya memastikan BBM tersedia 24 jam di SPBU.

"Pola distribusi BBM di Indonesia ini paling rumit di dunia, distribusinya kompleks sekali, belum kendala pengiriman mulai dari gangguan alam, bencana alam dan sebagainya. Sehingga sangat sulit memastikan BBM tersedia 24 jam di SPBU," ungkap Hanung beberapa waktu lalu.

Hanung mengungkapkan, untuk mendistribusikan BBM, perlu upaya yang cukup besar juga. Mulai dari kilang minyak atau dari kapal eks impor BBM diangkut lewat kapal dan dikirim ke depo BBM, lalu diangkut ke truk ke SPBU. Ada pula BBM yang diangkut pakai pesawat terbang, kapal kayu, bahkan ada yang diangkut dengan tenaga manusia.

"Untuk mendistribusikan BBM kita punya 112 terminal BBM, lebih dari 200 kapal tangker, 5.000 lebih SPBU, ratusan Agen Premium dan Minyak Solar (APMS) dan agen minyak tanah," ujar Hanung.