Sabtu, Januari 19, 2013

"Lepas saja Apau Kayan masuk jadi wilayah Malaysia"

Walaupun kerajaan Malaysia menggunakan istilah penyeludup ke atas warga Indonesia di sempadan Sarawak, namun mereka yang dikatakan tidak diambil peduli oleh pemerintah Jakarta terpaksa melakukannya demi untuk meneruskan kehidupan.

Malah mereka menganggap diri mereka sebagai pengemis dan akibat marahnya mereka terhadap pemerintah Jakarta, mereka menyebut, jika tidak ada jalan lain untuk menyelesaikan masalah mereka, lepaskan sahaja wilayah mereka untuk menjadi sebahagian negara Malaysia.

Penuhi Kebutuhan Sembako, Warga Perbatasan Rela 'Mengemis' ke Malaysia

Robert - detikfinance 
Sabtu, 19/01/2013 13:09 WIB 
Samarinda - Masyarakat yang tinggal di perbatasan Apau Kayan, Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur, dengan Long Busang, Sarawak, Malaysia, harus rela meminta kebutuhan sembako ke Malaysia, disebabkan tidak mudah mendapatkan kebutuhan serupa dari dalam negeri.


Bahkan sebagian besar bahan kebutuhan pokok, yang disubsidi pemerintah Malaysia, ikut dinikmati oleh masyarakat Apau Kayan di perbatasan. Barangnya antara lain gula pasir, minyak goreng, garam hingga tepung.



"Ini fakta, tidak bisa dipungkiri atau pun dibantah. Sebagian besar barang kebutuhan yang dijual di Apau Kayan yang memiliki 4 Kecamatan, asalnya dari Malaysia," kata salah seorang tokoh masyarakat Apau Kayan, Ibau Ala, dalam perbincangan bersama wartawan saat berada di Samarinda, Kalimantan Timur, Sabtu (19/1/2013).



Keberadaan Ibau Ala di Samarinda, menyusul ketiadaan angkutan pesawat penerbangan perintis ke Long Ampung, Apau Kayan, Malinau, sejak 1 Januari 2013 lalu hingga saat ini.



Menurut Ibau, banyak penyebab yang mengakibatkan masyarakat Apau Kayan, harus rela meminta dan membeli kebutuhan sembako dari Malaysia. Selain biaya angkutan barang penerbangan perintis yang disubsidi pemerintah pusat melalui Kementerian Perhubungan belum banyak membantu masyarakat, juga disebabkan wilayah Malaysia yang bisa ditembus dengan jalan darat meski harus melalui 'jalan tikus'.



"Masyarakat Apau Kayan dapat sembako itu dari kamp sebuah perusahaan perkayuan milik Malaysia. Tidak perlu malu, untuk urusan perut, kita rela beli sembako ke Malaysia. Sembako subsidi pemerintah Malaysia, kita juga ikut menikmati," ujar Ibau.



"Mau bagaimana lagi, tarif angkutan barang di pesawat perintis berkapasitas 12 seat saja sudah Rp 30.000 per Kg. Akses jalan darat ke ibu kota Kabupaten Malinau, tidak tembus. Kami semua di sini, petani. Bukan pengusaha," tegasnya.



Masih di Apau Kayan, dominan berseliweran kendaraan roda empat dan roda dua bernomor pelat wilayah kepolisian Malaysia. Pemandangan itu, menurut dia, tidaklah mengherankan bagi masyarakat Apau Kayan, meski Apau Kayan sendiri berada di wilayah provinsi Kalimantan Timur.



"Paling dekat dengan Sarawak (Malaysia) adalah Desa Beta'oh di Kecamatan Kayan Hulu. Bahan bakar minyak, juga termasuk yang disubsidi pemerintah Malaysia. Kami di Apau Kayan, memang beli mahal dari Malaysia Rp 23.000 perliternya.," sebut Ibau.



"Pemerintah Malaysia sebenarnya juga marah, setelah tahu kami di Indonesia, ikut menikmati kebutuhan sembako subsidi mereka. Ada beberapa akses jalan menuju Sarawak, yang diputus pemerintah Malaysia. Tapi kami tetap berusaha mendapatkan sembako itu," terang Sonda, warga Apau Kayan lainnya.



Sejauh ini, sambung Sonda, pemerintah terlihat lebih fokus memperhatikan Pulau Sebatik, di Kabupaten Nunukan, yang juga berada di perbatasan. Namun demikian, di Sebatik, warga setempat masih bisa mendapatkan pasokan sembako dari transportasi laut.



"Masalah perbatasan bukan hanya di Sebatik. Kami di Apau Kayan, tidak akan menutup mata kalau kami masih istilahnya menyusu ke Malaysia, terutama soal sembako," ungkapnya.



"Kami mengharapkan pemerintah pusat melalui APBN, menambah subsidi angkutan barang. Keluhan kami ini sudah berulang-ulang kali disampaikan. Kalau kami tidak diperhatikan soal sulitnya sembako dari dalam negeri sendiri, lepas saja Apau Kayan masuk jadi wilayah Malaysia," tegasnya.



"Pemuda-pemuda di Apau Kayan saja, sebagian besar bekerja di perusahaan-perusahan yang ada di Sarawak (Malaysia). Biasanya setelah bekerja 1-2 tahun, pulang ke kampung, memiliki keterampilan yang bisa digunakan untuk membangun kampung," tutupnya.

Tiada ulasan: